Monthly Archives: February 2016

Prosedur Pembuatan Kitas Sponsor Istri

Yup, kali ini postingan tentang birokrasi, harus serius nih nulisnya, gak boleh cengengesan :-P. Baeeklah untuk bu ibu atau istri WNA yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga (tunjuk diri sendiri) kalian bisa kok jadi sponsor suami untuk tinggal di Indonesia. Ada 2 plihan visa ( yang dapat di alih statuskan) untuk dipakai suami saat masuk ke Indonesia jika ingin mengajukan kitas yakni visa 317/telex visa (visa penyatuan keluarga) dan atau visa sosial budaya, perlu diketahui hanya kedua visa ini yang bisa di alih statuskan menjadi kitas (Kartu Ijin Tinggal terbatas), untuk visa turis tidak bisa dialih statuskan menjadi kitas.  

Nah, saya pake pilihan yang ke dua, yakni suami masuk ke Indonesia pake visa sosial budaya, so berikut ini akan saya jelaskan prosedur alih status VKSB (visa kunjungan sosial budaya) ke kitas (kartu ijin tinggal terbatas) sponsor Istri sebagai berikut : 

1. Datang ke Kantor imigrasi (kanim) di daerah tempat tinggal anda untuk mengajukan kitas

2. Dokumen yang harus dipersiapkan antara lain :

  • isi formulir pengajuan kitas
  • fotocopy visa dan passport WNA
  • fotocopy KK, KTP dan passport WNI/ pasangan
  • fotocopy buku nikah
  • fotocopy surat ijin menikah (letter of no impediment) dari kedutaan
  • surat sponsor istri

3. Serahkan berkas ke petugas kanim dalam bentuk rangkap 3 dan jangan lupa semua dokumen asli juga dibawa karena nanti akan di cek oleh petugasnya

4. beberapa hari kemudian pihak kanim akan menghubungi kita untuk datang survey ke rumah plus wawancara dan ambil foto berdua, eh bertiga deng sama salah satu petugas kanimnya juga πŸ˜€

5. Hari berikutnya (atau jika sudah di kabari oleh petugas kanim) kita datang lagi ke kanim dan melakukan pembayaran untuk ITAS masa berlaku 1 tahun sebesar 800.000, ditambah MERP (multy exit re-entry permit) 1 tahun sebesar 1.000.000 plus jasa penggunaan teknologi sistem informasi manejemen keimigrasian sebesar 55.000 jadi total yang harus dibayarkan sebesar 1.855.000

6.  Pihak kanim akan menerbitkan surat pengantar untuk di bawa ke kanwil (kantor wilayah) hukum dan HAM plus satu rangkap dokumen persyaratan (point nomor 2) di atas

7. setelah surat pengantar plus berkas dibawa ke kanwil hukum dan HAM maka pihak kanwil akan menerbitkan surat yang di tujukan kepada Ditjen Imigrasi kuningan jakarta

8. Jika tidak berdomisili di jakarta maka semua dokumen plus surat pengantar dari kanwil bisa dikirim melalui pos (saya kirim pakai JNE)

9. now it’s time to wait and pray semoga kitas suami cepat di Acc πŸ˜€

10. Setelah kitas keluar (sepertinya bisa dilihat melalui online oleh petugas dikanim) maka suami WNA akan diminta datang untuk foto dan pengambilan sidik jari, lalu menunggu sebentar dan vooilaaa kitasnya dah jadi dan bisa ambil passport yang sudah di cap oleh pihak kanim πŸ™‚

Bacanya kelihatan simple ya? tapi percayalah urus birokrasi itu butuh kesabaran dan banyak dramanya! tapi alhamdulillah di balik ke rumitan ternyata ada juga loh kemudahan yang di berikan Allah, misalnya : 

  1. untuk urus alih status vksb ke kitas biasanya estimasi waktu kurang lebih 1-2 bulan (saya tanya mbak Siti di Makassar dan baca dari internet juga) sedangkan saya sejak berkas di serahkan ke petugas kanim sampe kitas keluar hanya 15 hari saja kawan! rejeki anak soleha euy πŸ˜€
  2. sekarang sudah gak ada lagi pungli-pungli, asalkan semua kita urus sendiri ya, yang penting mau repot sedikit tapi jadi lebih mengerti semua urusan birokrasi dan bisa save lebih banyak uang dari pada pake agen yang bisa bikin harganya berkali lipat
  3. karena kantor imigrasi itu letaknya cuman selemparan kolor dari rumah saya jadinya kalau ada apa-apa misalnya dokumen kurang lengkap bisa cepat bolak baliknya, jalan kakipun juga bisa sih dari rumah asalkan kuat nahan panas,hehe

Oh ya semua proses di atas adalah murni pengalaman saya secara pribadi dalam mengurus alih status kitas suami saya di kantor imigrasi kelas 1 kota Ternate, sangat mungkin jika terdapat perbedaan seandainya pengurusan dilakukan di kota lain. Terima kasih sudah membaca dan semoga bermanfaat ya πŸ˜‰

Advertisements

One Lovely Blog Award

  

  

Mbak Inong nominated me for the One Lovely Blog Award, big thanks and much appreciation to Mbak Inong for this awesome gift, for those of you wanna know mbak Inong close up, u can check her blog here. She is a woman has a dream to live and work in Japan, you should absolutely check out her blogs πŸ˜‰

Now, here are the rules for this award : 

  1. Thank the person nominating you and link back to them in your post
  2. list the rules and display the award
  3. List seven facts about yourself
  4. Nominate 15 bloggers for this award and notify them that they have been nominated.

So here are my 7 things : 

  1. I am 27 years old and i had one and the only one lovely husband
  2. I think laughter is the best medicine
  3. My job right now is being a lovable wife to the amazing Romanian husband πŸ˜›
  4. I can’t cook very well but my husband said my food is delicious! (i know his saying that just to make me happy because if he told me the truth then i will not cook for him again) πŸ˜›
  5. I spent my childhood in Makassar (South Sulawesi) because of my parents work, then back to Ternate (North Moluccas) when i was 11 years old
  6. When i was 17 years old i moved to Yogyakarta to continue studying at University there
  7. I really like all the rural areas in Romania and i really wanted to stay there but i am afraid of the cold weather 

I nominate you all to participate in this award! Have a good weekend and happy blogging everyone! 

      Pengalaman Menjadi Guru Tamu Bahasa Inggris

      Ini ceritanya udah lama sih, baru sempat tulis sekarang. Jadi begindang, seperti biasa ini bukan cerita tentang saya melainkan cerita pengalaman bule Romania itu, saya mah apa atuh cuma remah-remahan biskuit, boro-boro jadi guru bahasa enggres, ngomong aja masih belepotan,hehe.

      Cerita bermula saat salah satu Ustad yang pernah ngajarin adek saya ngaji bertandang ke rumah orang tua saya dan kebetulan kami pun ada di sana, ngobrol ina-itu akhirnya Pak Ustad menanyakan jika kami berkenan untuk maen ke TPA ( Taman Pendidikan Al-Qur’an) nya beliau, dia mau suami saya jadi guru tamu disana, soalnya selain TPA disana juga ada tempat kursusnya, selain kursus matematika, bahasa Indonesia ada juga kursus bahasa Inggris. Tanpa pikir panjang setelah nanya ke suami dan dia bilang Ok langsung deh kita bilang Iya ke pak Ustad. 

        
      #Suami dan Pak Ustad

      Tiba hari H, janjian setelah shalat magrib, karena kursusnya mulai jam segitu, sore hari biasanya mereka belajar ngaji dulu, malamnya baru kursus biasa di tempat yang sama. Pas nyampe sana udah disambut sama murid-murid dari TPA dengan nyanyian kasidahan lengkap dengan dentum pukulan rebana, yassalam ini pak Ustad lebay banget sih, kayak mau jemput tamu kehormatan aja, tapi gak apa juga deng lumayan jadi artis semalam (suami saya, bukan saya!), mereka gak antusias ngelihat saya, yang ada begitu sampai sana semua murid berebut mau salim sama dia doang *istri mulai merasa iri*.

         
      #Suami sedang memperkenalkan diri

      Acarapun dimulai, skema ngajarnya cuman tanya jawab, suami bercerita kemudian bertanya lagi ke murid-muridnya, setelah itu mereka yang mengajukan pertanyaan, dan tenang ada gurunya yang mendampingi mereka sebagai penerjemah, saat suami sibuk cuap-cuap, saya dibelakang sibuk ngemilin rambutan (dikasih sama istrinya pak ustad,hehe). Acara berlangsung kurang lebih 2 jam, sisanya satu jam berikut buat sesi foto-foto yang tiada akhir, murid yang pertanyaannya bagus hadiahnya boleh foto bareng sama pak guru bule (ini beneran loh!). Acara foto bareng selesai kita disiguhin buah-buahan dan kue, lanjut ngobrol sebentar abis itu pulang deh. 

        
      #salah seorang murid sedang mengajukan pertanyaan

        
        
      #Foto bareng murid dan beberapa staf pengajar disana
      Oh ya, kegiatan ini dilakukan suami saya secara suka rela, yang penting  pak ustad seneng ada guru tamu disana dan suami juga seneng bisa punya pengalaman baru πŸ™‚

      Adaptasi Bule di Indonesia

        
      Sejak memutuskan pindah ke Indonesia tentunya ada beberapa hal yang menjadi perhatian saya yakni adaptasi suami untuk tinggal disini. Harapanya sih bisa cepat beradaptasi ya tapi namapun segala sesuatu butuh proses jadi dijalani aja. Berikut beberapa adaptasi yang harus di alami suami bule selama tinggal di indonesia. 

      1. Makanan

      Karena sebelum menikah kami pacaran cukup lama, kurang lebih 5 tahun jadi dia sering bolak-balik ke Indonesia maka bisa dibilang untuk adaptasi makan tidak terlalu sulit lah ya, apapun di makan sama dia, untuk makanan Indonesia dia udah terbiasa, bahkan  untuk makan cabe pun dia udah jago bener, kadang makanan dia lebih pedes dari punya saya. Tapi untuk makanan tradisional khas daerah tertentu biasanya jarang saya cobain ke dia karena takut dia gak suka, misalnya disini makanan khasnya kan Sagu sama Papeda, kalo saya kasih makan papeda nanti dikiranya saya kasih makan Lem lagi,hehe. Pernah waktu ke makassar nyobain coto makassar dan katanya enak :-).

      2. Cuaca

      sudah tahu kan kalo cuaca di Indonesia ini panasnya hampir sepanjang tahun, paling ujan dikit-dikit selebihnya panas terus, belum lagi humidity nya tinggi juga. Jadilah AC di kamar On setiap saat *menatap nanar pada tagihan listrik*, tapi untungnya makin kesini dia makin terbiasa dengan panasnya Indonesia (timur), so far so good lah. 

      3. Penyakit

      Seperti yang pernah saya bahas di postingan sebelumnya tentang penyakit andalan suami (dibaca: diare) sejak pindah kesini maka dia udah mulai nerimo kalau perutnya kadang udah mulai mules-mules setelah jajan sembarangan,hehe 

      4. Hewan/ Binatang

      maksudnya adaptasi dengan binatang yang sering di lihat di dalam/diluar rumah ya, Beberapa hewan rumahan yang sering kita lihat disini antara lain semut, kecoa, nyamuk, cicak dan bahkan tikus loh! waktu awal liat kecoa dia cenderung histeris apalagi kalo kecoanya terbang,beeeuh bisa jadi perang saudara, jadi awal dateng tuh setiap dia mau nonton tv  kedua tangannya selain pegangin remore tv juga sibuk pengaging baygon semprot (buat semprotin kecoa yg terbang masuk dalam rumah) sama raket nyamuk (buat nyetrumin nyamuk yang sering tawafin kakinya)

      5. Bahasa

      ini yang sering bikin pusing pala barbie. Terkait adaptasi bahasa ini kayaknya harus bikin postingan sendiri deh, soalnya banyak yang mesti di ceritain,hehe

      Sekarang suami saya sedang dalam proses belajar bahasa Indonesia, belajarnya ya dari internet, itupun pake ilmu sabar karena jaringan internet disini yang timbul tenggelam. Sisanya dia belajar dari keluarga saya atau nonton tv, kalau kita lagi ke rumah orang tua saya biasanya saya minta mereka ngomong ke pak suami pake bahasa indonesia saja, tapi masalahnya untuk yang tidak tinggal di jakarta/pulau jawa seperti kami akan sedikit lebih sulit karena  kami disini kan berbicara dalam bahasa daerah sini bukan bahasa tradisional asli (saya juga gak bisa) tapi bahasa pasarnya aja, yang ada suami saya sering bingung, karena kami ngomongnya beda dengan yang sering dia denger di tv, sebagai contoh dia seringnya bilang ‘tarada’ terus saya jelasin kalau ‘tarada’ itu bahasa indonesianya ‘tidak’ maksudnya sih biar dia tahu aja, takutnya dia lagi gak di Ternate trus mo ngomong sama tukang becak ‘tarada’, bisa bingung tukang becaknya
      6. Mati lampu/mati listrik

      duh duh ini hampir tiap minggu pasti ada kejadian mati lampu, terkadang malah dibarengi dengan mati air, lengkap sudah penderitaan. Awal-awal dia selalu komplain kalo mati lampu, tapi sekarang dah terbiasa karena udah keseringan, semoga dia gak ngusulin ide buat beli genset *sembunyiin ATM*

      Ini sih hanya beberapa hal saja dari sekian banyak hal yang harus dilalui suami bule yang tinggal di Indonesia. Adaptasi yang lebih sulit menurut saya adalah culture shock kehidupan disini yang sangat berbeda dengan di yurop sana (ya iyalah). Lain waktu saya ceritain culture shock nya suami seperti apa.

      Keep spirit ya cumamih, kamu pasti bisa! *kecuup basah* # eeeh