Monthly Archives: February 2015

Suami Dan Islam

Hari ini mau cerita tentang suami yang kurang lebih sudah 1 tahun menjadi seorang mualaf. Berikut sedikit update terbaru tentang perkembangannya :

I. Belajar Mengaji

Saya sudah pernah tulis di postingan sebelumnya tentang suami belajar mengaji, sekarang perkembangannya? ehm,,,saya jadi malu mau ngasih tau kalau suami saya sampai saat ini masih di iqra 2, iya sudah satu tahun kok masih iqra 2 ya? salahkan istrinya yang males ngajarin suami. *tutup muka, kabuur*. Sebenarnya bukan saya malas tapi susah mengajarkan suami mengaji, saya kan gak ada pengalaman dalam kegiatan mengajar iqra ngeles aja. Saya ngajarnya juga angin-anginan kalau lagi pengen aja (harusnya tidak boleh begitu ya), selebihnya terpaksa suami saya belajar sendiri, dia malah inisiatif sendiri untuk download aplikasi belajar iqra di handphone jadi setiap lagi dalam kereta baik itu pergi ataupun pulang kerja ya dia sambil belajar sendiri. Kata dia sih sekarang sudah sampe iqra 4 tapi saya rasa belum cukup kalau belajar sendiri, nanti diperbaiki lagi sama pak ustad yang penting dia sudah mulai mengenal huruf-huruf hijaiyah.

II. Puasa

Suami saya saat bulan Ramadhan tahun lalu yang notabene puasa pertama dia selama hidupnya di laksanakan dengan lancar, Alhamdulillah puasanya full loh! gak ada bolongnya barang seharipun. Padahal sudah pada tau kan puasa tahun lalu bertepatan dengan musim panas yang panasnya poool dan matahari yang terbenam jam 9 malam itu bikin waktu perpuasa tambah panjang. Walaupun setiap pulang kerja dia jadi 5 L (lemah, letih, lesu, lelah, lunglai) *iklan kaeee*, tapi puasanya tetap lancar.

Awalnya saya udah bilang ke suami karena baru tahun pertama ya kamu puasanya setengah hari aja dulu kalau sudah terbiasa baru kita coba puasa sampe jam 6 sore, ikutin waktu buka puasa kayak di indonesia gak apa-apa kok, islam kan tidak memberatkan, namanya juga baru belajar, kalau memang tidak bisa jangan dipaksa, tapi apa daya si bule ini tetap kekeh mau puasa sampai jam 9 malam, ya sudahlah saya biarkan. Saya? udah belingsatan lirik-lirik jam kok ya lama banget sampe jam 9 (tarik nafas panjang), mau buka puasa jam 6 tapi malu sama suami, masa dia mualaf tahun pertama puasa bisa tahan, saya yang dari kecil sudah diajarin puasa malah gak kuat, jadi terpaksa di tahan juga sampe jam 9 buka puasa bersama.

Sebelumnya saya sudah suruh mama saya tanya ke pak ustad katanya tidak apa-apa jam buka puasa disamakan dengan jam buka puasa di indonesia (dibaca: jam 6 sore) karena kan saya juga baru pertama puasa sampe jam 9, pelan-pelan nanti kalau sudah terbiasa bisa di lanjutkan sesuai jam buka puasa disini, tetapi untungnya saya tidak pernah buka puasa jam 6 (adanya jam 3,wkwkwk becanda), puasanya tetep sampi jam 9 kok.

III. Shalat

Rajin banget, kadang malah lebih rajin dari saya malah buka kartu, pernah suatu pagi pas saya lagi tidur pulas namun tiba-tiba terbangun karena kebelet mau pipis dan betapa terkejut dan tersentuhnya saya saat melihat suami sedang shalat subuh *cium tangan suami*, hal ini untuk orang lain mungkin hal biasa melihat suami shalat subuh tapi untuk saya merupakan hal yang luar biasa (karena dia seorang mualaf, mengerjakan shalatpun bukan karena paksaan saya menandakan dia masuk islam bukan hanya karena ingin menikah saja tapi memang atas keyakinan dia sendiri).

IV. Pengetahuan Tentang Islam

Pengetahuan suami tentang agama islam menurut saya lumayan lah, sebagai contoh suatu malam saya lagi ngerjain tugas dari sekolah bahasa, tugasnya di suruh baca artikel lalu di buat kesimpulan keseluruhan isi artikel, yang kebetulan membahas tentang Agama Islam (terkait dengan kejadian di Paris sebelumnya). Suami sedang nonton tv dan seperti biasa karena saya tidak mengerti beberapa kalimat di artikel itu (bukan beberapa sih banyak kali) sudah jelas saya pasti tanya ke dia, trus dijelasin maksud dari kalimatnya.

Nah, dalam salah satu paragraf di jelaskan tentang  Rukun Islam yang terdiri dari 5 perkara, lalu saya bertanya apakah dia tahu tetang rukun islam dan ternyata dia hafal pemirsa! disebutinlah satu persatu ke saya secara urut! tidak acak2an, kalau saya yang di tanya pasti nyebutnya acak-acakan tidak berurutan. Pantas saja sewaktu saya jelasin ke dia tentang zakat fitrah saat bulan puasa dia langsung bilang sudah mengerti ternyata kata dia memang sudah dijelaskan dalam rukun islam tentang masalah zakat.

Yup, kurang lebih seperti inilah perkembangannya, mohon doanya mudah-mudahan dia tetap jadi mualaf yang baik, saya tidak meminta liburan mahal, rumah mewah, kerjaan yang bagus, wajah tampan ataupun harta melimpah (tapi kalau dikasih juga gak apa sih, hehe)  yang penting  Agamanya tetap baik.

Postingan ini kok malah puji-puji suami sendiri sih, ceritanya mau pamer suami gitu 😉 gak apa lah ya dari pada saya puji-puji suami orang! *ditimpuk warga*

Advertisements

Roma dan Salju

Berbicara tentang salju tentu bukan barang langka di Eropa, terutama di kala musim dingin. Namun tahu kah Anda kalau salju bukan merupakan pemandangan biasa di kota Roma? iya! di kota Roma tidak turun salju teman (kecuali kalau pergi ke daerah pegunungannya ya). Jangan di kira karena ini salah satu negara eropa sudah pasti akan turun salju ya, suhunya boleh dingin tapi saljunya gak ada, padahal kan saya norak berharap ingin  melihat secara langsung turunnya salju, hehe. Tapi menurut informasi bulan Februari tahun 2012 yang lalu tiba-tiba saja hujan salju melanda kota Roma. Sepertinya memang sedang ada badai salju yang menerpa daratan Eropa dan sekitarnya sehingga menyebabkan kota Roma turut kebagian salju juga.

Akibat turunnya salju ini menyebabkan lalu lintas di Roma terhenti. Tumpukan salju di jalanan membuat banyak mobil tanpa ban berantai tergelincir mengakibatkan sejumlah kecelakaan lalu lintas tidak dapat dihindari dan juga pemerintah kota Roma membuat keputusan menutup sementara tempat wisata Colosseum untuk kunjungan wisatawan. Keputusan penutupan bangunan sejarah itu merupakan yang pertama kalinya sejak 26 tahun lalu. Penyebabnya adalah salju tebal yang menyelimutinya dan ke khawatiran pengunjung akan terpeleset kala melintasi jalan yang tertutup es.

Untuk tahun ini juga kayaknya gak bakalan ada hujan salju di kota Roma (berharap ada) secara kan musim dingin juga sudah hampir berakhir atau malah masih lama ya? gak tau juga deh, eh tapi beberapa minggu yang lalu sempat turun hujan es *doang* bukan salju, ekye kuciwa deh. Padahal pengen liat salju dari balkon rumah (kan lumayan es serut gratis, tinggal tambahan sirup, jadi deh sluuurp sluurp). So, Sekarang kalian jadi tau kan kalau di kota Roma tidak turun salju 😉

Prosedur Pendaftaran Pernikahan Di Romania

Postingan ini di buat sebagai informasi untuk membantu teman-teman yang berencana menikah dengan pasangan yang berasal dari negara Romania pada umumnya dan khususnya untuk beberapa teman-teman atau mbak-mbak yang mengirimkan email pertanyaan ke saya. Untuk proses legalisasi buku nikah di Indonesia bisa di baca disini. Setelah melakukan legalisasi buku nikah di 3 kementrian dan kedutaan Romania di jakarta dengan tujuan agar akta atau dokumen yang dibuat di Indonesia sah menurut hukum internasional, maka seluruh dokumen bisa di kirim langsung ke Romania untuk mendaftarkan perkawinan kita di sana, jadi kita tidak diharuskan lagi untuk menikah ulang disana.

I. Legalisasi dan terjemahkan dokumen di Kedutaan Besar RI di Romania

Terjemahkan semua dokumen yang berkaitan dengan pencataan pernikahan yang akan dilakukan di sana, mulai dari akte kelahiran WNI, Buku nikah dll. Beruntung karena buku nikah yang dari KUA sekarang sudah terdiri dari 2 bahasa yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, sehingga bisa juga di terjemahkan di Indonesia melalui kedutaan besar Romania di Jakarta.

Pengalaman saya : Buku nikah di terjemahkan secara lengkap ya, maksudnya secara keseluruhan yakni seluruh tulisan yang terdapat di cap legalisasi (tulisan yang kecil-kecil kesannya udah gak kebaca terus yang udah tumpang tindih sama tulisan-tulisan lain dibuku nikah pun tetap harus di terjemahkan).

Nb : Biaya untuk penerjemahan dan legalisasi melalui KBRI di bucharest dibayarkan dalam bentuk mata uang Dollar Amerika, mereka TIDAK MENERIMA mata uang dari Romania. Biaya kurang lebih 100$-150$, tergantung banyaknya dokumen yang di terjemahkan

II. Legalisasi Di Kementrian Luar Negeri (Ministerul Afacerilor Externe) Romania 

Setelah buku nikah selesai di terjemahkan maka bisa langsung dibawa ke kementrian luar negeri Romania yang ada di Bucharest untuk di legalisasi (lagi, huufftt). Dokumen yang di perlukan untuk legalisasi antara lain

  • Terjemahan dan legalisasi buku nikah dari Kedutaan Besar RI di Romania
  • Akte kelahiran suami dan istri
  • Foto copy passport (untuk WNI) dan fotocopy kartu identitas (untuk WN Romania)

Nb : siapkan saja dokumen pendukung lainnya untuk berjaga-jaga jika di butuhkan

III. Kantor catatan sipil (oficiul starii civile)

Setelah selesai proses legalisasi di kementrian luar negeri Romania maka dokumen dibawa kembali ke kantor catatan sipil (oficiul starii civile) sesuai domisili kartu identitas suami/istri kita.

Pengalaman saya : Begitu akan di daftarkan ternyata mereka menolak karena nama saya hanya memiliki satu kata (single name saja pemirsa) sehingga menyulitkan mereka untuk mengisi data karena menurut mereka di mana-mana nama paling tidak ada dua suku kata (nama depan dan nama belakang) yang mau tau repotnya pengalaman saya mengurus dokumen di Italia dengan nama yang hanya satu suku kata, bisa di baca di sini. Dengan susah payah kakak ipar saya disana mengurus kesana kemari sampai akhirnya mereka mau mangeluarkan akta pernikahan kami dengan MENGOSONGKAN nama depan saya dan mengganti nama depan saya menjadi nama belakang!

Nb : untuk semua urusan di ibukota bucharest saya pakai jasa agen dengan biaya kurang lebih sekitar 250-300 Euro, sedangkan untuk urusan di kantor catatan sipil domisili suami di bantu oleh kakak ipar saya yang pada saat itu sedang hamil besar tapi rela mondar mandir ngurusin dokumen kami. *hug kakak ipar*

IV. Kedutaan Besar Romania di Jakarta

Setelah akta pernikahan dari Romania keluar  maka seluruh dokumen bisa dikirimkan kembali ke Indonesia untuk selanjutnya di bawa ke Kedutaan Besar Romania di jakarta sebagai syarat untuk pengajuan visa kumpul keluarga, jadi ini prosesnya dokumen dilegalisasi di INDONESIA kemudian di kirim ke ROMANIA, setelah di legalisasi dan di daftarkan di sana lalu berkas di kirim kembali ke INDONESIA.

Nb lagi : untuk kasus saya sendiri lebih kompleks karena suami saya tidak berdomisili di negaranya melaikan di negara italia dan tujuan domisili kami adalah di negara tersebut, sehingga pengurusan segala dokumen dilakukan melalui 3 negara yakni Indonesia, Romania dan Italia. Lain waktu akan saya posting bagaimana prosesnya yang lumayan membutuhkan tingkat kesabaran ala dewa dan bisa bikin sakit kepala *minum obat trus tidur* 🙂